Selamat Datang Di Website Resmi "BADAN PELAYANAN PERIJINAN TERPADU KABUPATEN KUTAI BARAT"

Lima Nelayan Filipina Ditangkap di Perairan Ambalat

TARAKAN – Ilegal fishing jadi alasan kuat bagi awak kapal KRI Abdul Halim Perdanakusuma dengan nomor lambung 355 yang tergabung dalam Operasi Tameng Hiu, mengamankan 5 nelayan asal Filipina. Lima nelayan itu kini diamankan di Lanal Tarakan.

Kemarin (30/5), KRI Abdul Halim Perdanakusuma saat melakukan patrol di perairan Sulawesi, tepatnya pada posisi 03º 42’ 50” Lintang Utara–118º 38’ 00” Bujur Timur, mengamankan satu kapal dari Filipina dengan nama Lady Nana. Komandan Pangkalan TNI AL Tarakan, Kolonel Laut (P) Taat Siswo Sunarto menyampaikan, KRI AHP-355 merupakan kapal jenis frigate yang sedang melaksanakan tugas pengamanan wilayah perairan Ambalat.

Dikatakan Taat, saat KRI AHP-355 mendekati ke-6 perahu nelayan Filipina yang dari jauh terlihat gerak-gerik mencurigakan, mereka langsung kabur. Komandan KRI AHP-355 Kolonel Laut (P) Kisdiyanto langsung memerintahkan pengejaran.

Saat proses pengejaran, KRI sempat mengeluarkan tembakan peringatan ke udara dengan senjata AK 47. Satu dari enam perahu nelayan Filipina tersebut berhasil dihentikan. Perahu sejenis long boat dari bahan kayudengan nama Lady Nanapanjang 8 meter bermesin tempel 40 PK sebanyak dua buah.

”Kemudian perahu tersebut diperintahkan untuk mendekat ke KRI Abdul Halim Perdanakusuma – 355untuk dilaksanakan pemeriksaan,” terang Danlanal kepada Radar Tarakan (Kaltim Post Group).

Setelah pemeriksaan awal diketahui kalau nelayan tersebut berasal dari Filipina, yang bermaksud menangkap ikan di perairan Ambalat dengan menggunakan alat penangkap ikan jenis pancing. Mereka berjumlah lima orang dan disangkakan telah melakukan illegal fishing, dan memasuki wilayah perairan Indonesia tanpa izin.

Untuk mempertanggungjawabkan pelanggaran yang telah dilakukan, perahu Lady Nana beserta nelayan dan barang bukti lainnya dikawal menuju Lanal Tarakan untuk pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut.

“Masuknya perahu atau kapal asing ke wilayah perairan Indonesia melakukan pelanggaran illegal fishing sangat merugikan nelayan tradisional Indonesia dan tidak menutup kemungkinan perahu atau kapal asing tersebut digunakan sebagai sarana angkut muatan-muatan ilegal seperti bahan peledak, narkoba, maupun senjata api. Karena itu operasi unsur KRI di wilayah perbatasan Malaysia maupun Filipina perlu diintensifkan,” tegas Danlanal Tarakan. (*/mad/kpnn/obi)

Tags :

Kategori : Internasional

Berita Terkait :

Beri komentar anda :